Ini adalah cerita yang aku pernah baca di majalah. Tapi aku udah ganti nama pemerannya. Selamat menikmati!!!
Pencuri di Kelas
Kelas VII sekarang sedang heboh,karena banyak anak perempuan yang kehilangan benda berharga mereka. Seperti Disti yang kehilangan saputangan pemberian saudaranya dari Belanda, Anggara kehilangan dompetnya, Dya kehilangan pulpen, Praba kehilangan kotak pensil. Setiap hari ada saja anak yang kehilangan barang. Kecuali Susan. Karena itulah semua anak jadi mencurigai Susan sebagai pencuri di kelas VII.
“Tuh kan Ca, benar kataku, hanya Susan yang tidak kehilangan barangnya.” kata Trias berapi – api. “Kita harus menyeidikinya Ca” kata Praba. “Ah, tak usah diselidiki,langsung saja hukum, sudah pasti dia pencurinya, dia kan…””Sudahlah, kita tidak bisa langsung menuduh orang seperti itu Tri, kita harus bisa membuktikan bahwa dia bersalah baru kita menghukumnya.” tukas Ica.
Sekarang Ica bingung dia sebagai ketua kelas harus tegas menghukum temannya yang bersalah, tapi ia tak yakin bahwa yang mencuri barang – barang itu adalah Susan.
“Kenapa kamu diam Ca, kamu tidak tega menghukum Susan karena ia teman baikmu? Nggak boleh gitu dong Ca! kamu harus tegas!””Oke… oke aku akan menanyakan padanya” kata Ica. Saat istirahat Ica berbicara pada Susan “San, semua teman curiga sama kamu karena cuma kamu yangtidak kehilangan barang di kelas VII ini.” ”Ca, aku nggak akan mencuri, untuk apa aku mencuri, kan tidak ada untungnya untuk aku, Ca, oh ya aku juga pernah melihat kalau yang mengambil pulpenmu itu Trias”jawab Susan. “ Iya, aku percaya kok sama kamu” kata Ica.
Lalu Ica memikirkan cara untuk menjebak Trias. Akhirnya Ica menemukan cara untuk menjebak pencuri yang sebenarnya yaitu si Trias dan ia yakin caranya pasti berhasil.
“Hai teman – teman aku beli pulpen baru lo, bagus lagi” pamer Ica kepada teman – temannya. “ Aku pinjam ya Ca, kebetulan pulpen aku waktu ini hilang dicuri.” Kata Dya. “Aku juga mau” kata Praba. “Ah pulpen seperti itu hanya bagus luarnya saja. Kalau dipakai tintanya sering luber. Tintanya juga kadan macet.””Lho darimana kamu tau Tri? rasanya tidak seorang pun ku beritahu kalau tinta pulpen ini luber dan sering macet?”tanya Ica. “Oh.. eng..ak..ak…aaaku hanya menebak saja”jawab Trias. “Tapi tak mungkin setepat itu kan, lagipula sepertinya kamu sudah pernah memakai pulpen ini” kata Ica. “Maksudku aku memang pernah punya pulpen seperti itu” jawab Trias. “Kamu beli dimana, harganya berapa, kapan belinya?” kejar Ica terus.
Trias tak bisa menjawab. Wajahnya pucat pasi. Ica dan yang lainnya terus mendesak Trias untuk membongkar isi tasnya. Ternyata di dalam tas Trias terdapat semua barang anak perempuan kelas VII yang hilang. Trias pun akhirnya mengakui kesalahannya. “Kenapa kamu mencuri Trias?”tanya Ica. “Aku hanya tidak ingin kalian berteman dengan Susan. Aku ingin kalian berteman dengan aku karena menurutku Susan anak yang sederhana” jawab Trias. “Kamu nggak boleh membeda – bedakan teman Tri! semua teman itu sama” tukas Ica.
“Ca, kok kamu tau sih kalau yang mencuri itu Trias?” tanya Disti.”He itu karena Susan pernah melihat Trias mencuri lalu dia juga terjebak sendiri mengatakan soal pulpen itu. Ada lagi lo, setiap ada yang kehilangan pasti yang ribut dia dan ujung – ujungnya menuduh Susan. Oya kalian juga harus minta maaf pada Susan ya!”. Semua teman – teman menyalami Susan sambil minta maaf kecuali Trias yang duduk sendiri di pojok karena sejak detik itu tidak ada lagi yang mau berteman dengannya.
Nah itu dia ceritanya...
Gimana??? Kayaknya ngga seru yah...
Ngga apa - apa kan???